Kamis, 04 Juni 2020 0 komentar

SEMUA BERAWAL DARI SATU LANGKAH (Spoiler Garis Besar Naskah Terbit berikutnya)



Ketika memulai untuk menginjakkan SATU LANGKAH TANTANGAN, berarti kita sudah memulai untuk “Menantang Masalah” apapun yang kita lakukan, akan menentukan apakah langkah yang sudah kita mulai akan membuat kita “Menyerah atau Lanjut” dan anggaplah “Tantangan itu Teman” meskipun harus dilalui mulai dari “Merangkak, Jalan, lalu Berlari” agar bisa menaklukan tantangan apapun itu.
Cover Lama, yang akan direvisi ketika terbit

Mulailah semuanya dengan SATU LANGKAH BERMIMPI karena biarpun banyak yang menganggapnya hal biasa tapi sekecil apapun “Mimpi itu Penting” apalagi yang besar, karena berawal dari itulah kita bisa membuat hal baru dari langkah-langkah kita. Tentunya tidak sembarang menciptakan apa yang kita impikan, namun tetap harus memiliki “Strategi Mimpi” untuk bisa membuat langkah kita menjadi lancar menggapainya.
Memang tidak banyak orang yang mau membuat SATU LANGKAH Gila dan Nekat (GiAt) karena jika sudah memutuskan untuk menjadi seperti itu, harus siap kita akan benar-benar “Menjadi “Orang Gila”. Namun kita akan bisa menjadikan diri lebih dari yang lainnya karena kegilaan kita, tinggal jalan kita nanti menentukan apakah kita akan “Gila Sukses atau Sukses Gila” dan melakukan hal-hal yang tidak biasa pada umumnya meskipun tetap mencoba “Menjadi Nekat Dengan Aman” namun tetap saja dengan tujuan kebaikan, itu akan menunjukkan “Berbuat Nekat tidak sama Dengan Berbuat Konyol”
Tentunya kita harus juga memiliki prioritas agar bisa memiliki SATU LANGKAH BERPRESTASI, karena kesan orang kebanyakan bahwa selalu ditekankan dari kita masuk SD sampai SS yang lainnya selalu diingatkan akan “Pentingnya Berprestasi” Secara sadar atau tidak hal ini menjadikan “Prestasi Ukuran Seseorang” hampir dalam hal apapun. Namun ingat, apa yang kita lakukan tidak hanya bisa menjadikan diri memiliki “Prestasi Dunia” tapi juga harus memiliki “Prestasi Akhirat” agar semuanya seimbang.
Diri yang rapuh ini memerlukan hal lebih baik untuk membuat SATU LANGKAH BERPIKIR disetiap keadaan. Terkadang kita harus mencoba untuk bisa “Ganti Pikiranmu” dalam melihat ssesuatu apapun, tidak terpaku dalam satu hal dan satu sudut pandang. Bahkan dalam beberapa keadaan “Cobalah Jangan Berpikir” dalam menghadapi hal-hal tertentu dan kita juga harus bisa “Pakai Pikiran Orang Lain” jika ternyata pikiran yang kita punya kurang bisa menjadikan hal itu lebih baik, dan hati-hati jika ingin “Bermain Dengan Pikiran”
Sederhana memang, tapi mulailah dengan SATU LANGKAH BERSYUKUR dalam setiap kesempatan dan keadaan. Jika kita sering di katain “Syukurin...” oleh banyak orang, ambil positifnya saja, karena hanya kitalah yang mengerti keadaan kita sesungguhnya, apakah berpikir “Sulit? Kamu Aja Kali” tidak ada yang sulit jika kita yakin akan ketentuan yang diberikanNya  kepada kita, namun kesyukuran kita “Tidak Sekedar Alhamdulillah” untuk menunjukkannya, harus bisa lebih dari itu, sehingga bisa menunjukkan kesyukuran kita sepenuhnya.
Begitu juga dalam SATU LANGKAH HUBUNGAN. Hal yang paling pertama yang perlu kita prioritaskan adalah “Berhubungan Dengan Tuhan” dalam hal apapun. Lalu gapailah kebahagiaan dengan membangun “Hubungan Dengan Orang Tua” sebaik-baiknya, karena merekalah yang telah membuat kita hingga bisa menjadi seperti ini. Barulah kita membentuk “Hubungan Dengan Sesama” karena kita sebagai makhluk sosial harus bisa memiliki hubungan baik dengan makhluk sosial lainnya. Tidak hanya sebatas itu “Hubungan Dengan Semesta” juga perlu kita eratkan, karena banyak hal disekitar kita tidak kita sadari selalu tarik-menarik dalam perjalanan kehidupan.


Selasa, 02 Juni 2020 0 komentar

Sekolah 1000 aturan?


Sekolah 1000 aturan, begitu beberapa alumni menjulukinya.

Assalamualaikum sobat pembaca sekalian, tentu sekolah yang dimaksud adalah sekolah tempat saya mengajar sekarang. Kenapa begitu? Yap, karena memang banyak aturan disini, yang mana tentu aturan tersebut bertujuan untuk bersama-smaa meniti perubahan lebih baik.
Namun, seberapa dalam sih anak smp bisa memahami peraturan dimana itu adalah proses belajar dan menambah pengalaman. Sebagaimana judul yang tertera diatas, beberapa alumni yang masih tetap berkomunikasi bahkan kadang bertemu, memiliki pendapat dan rasa tersendiri atas yang sudah mereka alami.

Sebuah sekolah yang merintis dari kelas-kelas yang bertempat di sebuah klinik lama, hingga sekarang mulai belajar berjalan, berlari dengan kekuatan sendiri, tentu ada proses yang dileawti. Salah satunya adalah bagaimana atmosfir aturan-aturan yang ada berjalan.

Tidak hanya untuk para murid, dibalik itu semua para guru, staff, bahkan sampai para petinggi memiliki aturan yang harus dipatuhi dan juga untuk kontrol diri.

Contoh kecil, seperti anak murid yang memiliki kewajiban ibadah yang dilaporkan ketika bulan ramadhan kemaren, tentu guru juga tak kalah banyak laporannya. Malah setiap pengajar memiliki standar yang juga dipress oleh sekolah yang jangan sampai kualitas bidang masing-masing akan hilang.

Tentu aturan-aturan lain terkait para karyawan tidak bisa dijabarkan satu-satu, itu adalah sebuah pengontrolan masing-masing dengan tetap menjaga nama baik sekolah tentunya, hehe.

Kembali dengan judul kita tadi. Tentu kalau berbicara hal tersebut terkesan sekolah ini seperti ketat dan tidak membebaskan ekspresi siswanya ya. Eits kata siapa? Alhamdulillah, untuk prestasi dari bidang seni sampai olahraga sudah pernah ditorehkan, tidak melulu dalam bidang keagamaan yang tentu menjadi tonjolan dan keunggulan kita disini.

Namun memang, sekolah mengawasi sampai hal terkecil sekalipun.

Untuk beberapa angkatan terdahulu mungkin memiliki suasana tersendiri bagaimana pengetatan aturan yang dilakukan sekolah terhadap mereka. Merasa seperti ingin pindah sekolah setiap hari, merasa seperti dipojokkan terus oleh guru, namun itu sebelum mereka semua tahu tujuan dan apa yang kami para guru ingin sampaikan melalui pengalaman.

Alhasil, apa yang mereka rasakan setelah lulus dan menjajaki jenjang yang lebih tinggi. Di tahun pertama mereka menikmati masa SMA, terutama yang memasuki sekolah yang berbasis umum, beberapa dari mereka shock. Yang paling pertama adalah bagaimana ucapan yang keluar dari mulut teman-teman baru mereka dan begitu berbaurnya antara laki-laki dan perempuan.

Yups, tentu saja. Begitu kita kontrolnya anak-anak agar mengontrol apa-apa yang keluar dari mulut mereka. Jangankan mencarut (bahasa orang sini ngomong kotor lah ya), berkata bodoh untuk temannya saja, itu diingatkan. Dan bisa dibayangakanlah apa-apa saja kata-kata yang biasa dipakai anak smp jika tidak terkontrol. Apalagi dengan game online yang kata-katanya lebih tidak beradab dalam komunikasi antar teman (biasanya sering seperti itu)

Belum lagi campur baur. Tentu yang berasal dari sekolah berbasis islam, pada umumnya jelas kelas dipisah. Jikapun belum, ada sekat yang menghalangi agar interaksi tatap muka antar lawan jenis tidak terlalu bebas. Meski tidak dipungkiri satu sama lain masih akan terjadi komunikasi.

Dengan masuk ke jenjang dan suasana baru yang  lebih bebas dan campur, beberapa dari mereka ada yang kaget awalnya, namun tetap menjaga sebisa mungkin, ada juga yang bertahan dan bisa mengontrol, ada juga yang proses kembali agar bisa tahu batasan. Tentu semua itu kembali kepada kontrol diri masing-masing mereka.

Ternyata dengan tidak ada atauran sampai hal kecil yang mengontrol ucapan, tindakan dan lainnya, mereka awalnya pada kebingungan meski akhirnya beradapatasi juga dalam beberapa minggu.

Diluar itu mungkin mereka memang menjuluki, sekolah 1000 aturan, namun ternyata itulah yang mereka rindukan. Bagaimana diingatkan manset dan kaoskaki bagi yang perempuan. Bagaimana botaknya rambut ketika mencontek, rindu maskaan bunda, yang tak akan ada lagi ketika SMA. Dan banyak lagi aturan yang mereka pikir ketika saat SMP seperti mengekang, ternyata disanalah semua awal dari pembentukan diri.

Bahkan ditahun pertama berpindah jadi anak SMA, masih ada yang bilang nggak enak SMA, mau balik SMP aja. Padahal di SMP bilangnya mau pindahlah, cepet tamatlah, hehe.

For the last, untuk semua yang pernah menjadi bagian dari SMP IT Khairunnas, yakinlah disini yang diinginkan adalah menjadi sama-sama baik. Memang akan selalu ada pahitnya, dan disanalah saatnya bertahan. Pilihan kalian ingin menetap atau pergi. Namun jika sudah pergi jangan sampai menyesal keputusan yang telah dijalani.

Salam kebaikan, Salam Tepar, Oyasuminasai J

Senin, 01 Juni 2020 1 komentar

Nangis tanpa sebab? Emang ada?


Assalamualaikum sobat pembaca. Baru bisa nulis dan posting agak malam. Kelelahan habis perjalanan bersama temen lama yang umurnya udah lumayan tua. Setelah nulis ini mungkin tak lama lagi saya kana meninggalkan layar. Karena . . . ngantuk, pengen tidur, hehe.

Oke, apa yang mau kita bahas kali ini sesuai judul. Tentang nangis. Kenapa dan ada apa dengan menangis? Ya nggak apa-apa pengen bahas aja, ide yang lagi dapet tentang itu sih. Gara-gara si anak bocah.

Besok inshaAllah nulis tentang sekolah saya, di mata anak alumni, hehe. Apa itu? Ya besok ya, kita kembali ke bahasan kali ini terlebih dahulu.

Nah, kembali membahas tentang menangis.

Kamu suka nangis? Atau malah hobi bikin orang nangis?

Penyebabnya bahagia atau sedih? Atau malah tanpa sebab?
Tentu setiap orang pernah menangis. Minimal ketika lahir. Yang katanya menangis karena akan merasakan beban berat di dunia ini. Yah katanya lah ya. Siapanya nggak tahu sih…

Menangis tentu juga salah satu cara melembutkan hati, dengan menangis menunjukkan bahwa kita masih memilki perasaan. Dengan menangis berarti kumpulan salah satu bentuk emosi itu ada di dalam diri kita. Lalu, apakah mungkin untuk menangis tiba-tiba dan tanpa sebab?

Jika kita ingin merenung lebih dalam, tentu tidak ada di dunia ini yang terjadi tanpa sebab. Semua hal berjalan tentu ada sebabnya. Karena Allah sudah mengatur semua itu dengan sempurna (cie bijak…)

Oke, jadi kalau menurut saya apakah menangis tanpa sebab itu ada? Hm, tidak lah ya. Meski jawabannya bisa ilmiah, filosofis, romantis, ataupun melankolis, tentu pasti ada penyebab dari setiap apa-apa yang terjadi di dunia ini.

Oke, berhubung tepar dan ngantuk, jadi ada sumber yang sempat saya cari, apakah penyebab menangis tanpa sebab? (kayaknya ada yang janggal dengan pertanyaannya ya), atau istilah yang berhubungan dengan sesuatu yang tentang orang yang menangis? Mari kita baca selanjutnya…

Dari website SehatQ, Menangis tanpa sebab dan tak terkontrol, ada beberapa hal yang memungkinkan hal itu terjadi.

1. Hormon : Wanita dilaporkan lebih sering menangis dibandingkan pria. Hal ini memunculkan teori bahwa hormon mungkin berpengaruh terhadap tangisan seseorang. Sebab, hormon testosteron yang tinggi pada pria diperkirakan bisa mencegah aktivitas menangis. Sebaliknya, prolaktin yang tinggi pada wanita boleh jadi bisa memicu tangisan.

2. Kelelahan : Kemungkinan penyebab menangis tanpa sebab dan tak terkontrol lainnya adalah tubuh yang terlalu lelah. Apabila terus menangis dan tahu bahwa Anda kurang tidur, maka bisa dipastikan segera istirahat menjadi solusinya. Penting untuk diingat, orang dewasa membutuhkan durasi tidur selama 7-9 jam dalam sehari.

3. Sedang hamil : Ibu hamil mungkin akan lebih sering menangis tiba-tiba dan menjadi kondisi yang umum dialami. Perasaan yang mengiringi tangisan tersebut bisa berupa kebahagiaan atau malah kesedihan.

4. Stres dan rasa cemas : Sebenarnya, stres merupakan respons diri yang normal terhadap beragamnya masalah hidup. Hanya saya, apabila terjadi terus-terusan, stres dapat menjadi tanda dari gangguan kecemasan. Rasa cemas tersebut membuat penderitanya lebih sulit menjalani hari dibanding orang kebanyakan.

5. Bipolar : Gangguan bipolar ditandai dengan perubahan mood yang ekstrem. Untuk sesaat, penderitanya akan merasa sangat bahagia. Namun kemudian, ia bisa menjadi sangat sedih. Bipolar pun bisa memicu menangis tak terkontrol, pikiran yang berjalan cepat, kurang tidur namun tak merasa lelah, hingga halusinasi.

6. Depresi : Depresi merupakan masalah medis dan mental yang ditandai dengan kesedihan, kelelahan, dan kemarahan yang berlebih. Walau rasa sedih menjadi hal yang normal, orang yang depresi akan mengalami kesedihan yang tak bisa dijelaskan selama beberapa waktu.

7. Pseudobulbar affect : Menangis tanpa sebab dan tak terkontrol mungkin juga bisa disebabkan oleh pseudobulbar affect. Kondisi yang disebut dengan labilitas emosional ini juga tak hanya memicu tangisan, namun juga bisa memicu tawa tak terkontrol walau tak ada pemancingnya.

Nah, sudah baca semuanya kan. Yah itu sih Cuma dari satu sumber, sobat semua tentunya bisa mencari sumber yang berjuta-juta dengan mengetikkan dan mengklik di jaringan internet tentang hal tersebut.

So, semuanya ternyata memiliki sebab. Bahkan, ada istilah yang merujuk hal tersebut yaitu hypophrenia. Kurang lebih memiliki makna yang artinya sebuah  perasaan emosional manusia yang sebenarnya merupakan respon terhadap suatu keadaan yang menimpa diri sendiri. Rasa sedih ini menjadi tidak normal karena seseorang dapat merasakan sedih dan tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas. (maaf banget lupa seumbernya L)

Jadi, bisa simpulkan sendiri dan mencari lebih jauh ya kalau yang ingin mengkaji hal ini lebih dalam tentunya.

Segini dulu tulisan kali ini, badan sudah diambang ambruk, mau pergi ke pulau kapuk…

Semoga bermanfaat, Salam kebaikan, dan Salam Tepar, hehe.


Minggu, 31 Mei 2020 0 komentar

Selalu ada yang pertama kali…


Assalamualaikum sobat pembaca, masih ingat pertama kali kamu lahir? Dan tiba-tiba udah sebesar sekarang?

Pertanyaan gaje sih, hehe.


Nah, kita tentu selalu merasakan yang namanya pertama kali ya. Dalam hal apapun itu. Bisa jadi hal pertama itu, menjadi yang pertama dan selanjutnya, atau memang benar-benar pertama dan terakhir. Seperti pertanyaan pertama tadi, lahirnya kita pertama dan terakhir, lalu meninggal.

Hampir setiap orang yang melakukan hal pertama kali mengalami rasa gugup. Entah itu hal baik apalagi hal buruk.

Andai kita mengurutkan semua apa yang dirasakan dari lahir, semua kita mulai dari pertama kali.

Pertama kali lahir tak ada yang ingat bagaimana rasa dan kondisinya.

Pertama kali belajar berjalan, tak ingat berapa kali jatuh lalu berulang kali jatuh sampai akhirnya bisa lari bahkan loncat-loncat dan jungkir balik.

Pertama kali masuk sekolah, takut dengan berbagai hal baru, bingung mau bagaimana, sampai akhirnya ada yang bucin, ada yang cari perhatian, ada yang kepedean, ada yang… yah macem macem lah ya. Sampai sekolah ada yang menjadikannya ketakutan atau memang tempat menyenangkan.

Ada yang pertama kali mencoba menjadi ketua kelas, mengurusi semua hal yang berada di kelas. Sampai pusing dan serba salah dan ingin mundur.

Ada yang pertama kali keluar kota, serba bingung dan takut. Setelah beberapa kali akhirnya ketagihan, apalagi gratis karena ikut organisasi.

Pertama kali menikah tentu memiliki hal yang banyak bikin gundah dan perubahan sana sini. Yang bisa jadi pengalaman, entah akan menjadi pengalaman terakhir menikah, atau memperbaiki diri untuk pernikahan lagi, hm…

Yang pertama kali jadi orang tua. Dari sindrom baby blues sampai sang ayah mulai harus hemat-hemat fulus.

Begitu banyak kejadian di hidup ini yang diawali dengan hal pertama. Yang perlu dilakukan hanyalah menjalani dan mengalaminya. Tak ada yang perlu ditakutkan, itu hanya pikiran sesaat karena belum mencoba melakukan. Namun, akan ada selalu was-was jika pertama kali melakukan keburukan.

Mungkin ada…..

Yang pertama kali mencuri uang orangtua. Jantung berdetak kencang, pikiran tidak tenang, namun semua demi kuota bertahan agar main game online bisa menang.

Yang pertama kali terkagum dengan artis, mau dunia nyata, dunia maya, atau dunia khayalan yang karakternya tak pernah ada. Dari histeris sampai teriak-teriak. Yang berlebihan sampai menangis dan kalau ditegur marah berontak. Yang orang tua terlupakan sampai berjam-jam dikamar scroll info sana-sini sampai waktu makan dipanggil hanya menjawab tidak.

Semua, semua pertama kali ini akan terus hadir dalam hidup. Mau tidak mau, suka tidak suka harus dijalani. Apalgi ketika Negara api sekarang sedang menyerang. Jelas lebih banyak pertama kali yang terjadi. Namun skip lah ya, tidak usah dibahas, sudah banyak yang membahas sih…

Jika yang sudah banyak mengalami “pertama kali” dalam hidup ini, akan terbiasa dengan “pertama kali” yang akan datang di setiap perjalanan kehidupannya. Akan selalu ada perubahan, penyesuaian, perkembangan yang menjadi pertama kali dalam hidup, so, jangan takut untuk memulainya, selama hal itu adalah hal yang berbentuk kebaikan ya.

Jadikan setiap moment pertama kali dalam hidup adalah hal yang memberikan moment tak terlupakan, menyenankan, dan berbekas kenangan yang tidak menakutkan.

Sebagaimana pertama kali mencoba menulis ini, yah mengalir saja, apa yang ada di dalam pikiran dituliskan saja, toh nanti selesai juga. Kalau tidak selesai ya tinggal kasih titik selesai kan, hehe. Salam kebaikan.

Sabtu, 30 Mei 2020 0 komentar

Isi Mimpinya, Anak Murid. . .


Assalamualaikum sobat pembaca. Kembali lagi tulisan ringan kali ini. Seperti biasa membahas hal ringan yang bisa dibaca tanpa menambah beban pilkiran.

Dua bulan menuju tiga bulan libur sekolah secara tatap muka, tentu ada kerinduan kepada canda-tawa, suka-duka, kepada para sholeh sholeha calon penghuni surge. Pertemuan yang terhenti secara tiba-tiba tentu membuat kita banyak meninggalkan kenangan pada pandangan.

Hm… agak melankolis ya kayaknya, he.

Yah, banyak agenda pertemuan yang tertunda. Dimana bercengkrama dan kerjasama dengan anak-anak murid menjadi berwarna. Perpisahan yang batal total, dua agenda mabit yang juga tak lagi menjadi pertemuan yang nyata. Agenda ramadhan dan I’tikaf yang tentu hilang seketika. Serta pembelajaran di dalam kelas yang jelas hilang meninggalkan bekas.

Namun, sekali lagi, mengeluh bukan solusi. Menatap kedepan, kreatif dan menimbulkan inspirasi tentu lebih terpuji dan meninggalkan hal yang lebih melekat di hati.

Semua agenda terbatas video dan WA. Dengan mendadakpun sempat terlaksana juga rapat dengan para beberapa pengurus osis melalui video dan tatap muka. Selebihnya hanya senda gurau melalui teks aplikasi WA.

Lamanya tak bertemu dengan mereka memberikan kesan tersendiri. Bisa dikatakan hampir setiap hari di malam tidur, mimpi yang berjalan diisi dengan para murid-murid ini. Tema mimpi juga beragam, ada yang disekolah, bahkan yang semalam sampai posisinya dirumah.

Di satu bulan pertama, ada satu minggu bahkan hampir setiap harinya mimpi yang isinya anak murid. Tentu sekarang tak ingat lagi apa-apa saja mimpinya. Namun masih ada beberapa yang menempel. Bahkan unik-unik. Apakah ini bentuk kerinduan? Hehe

Jika harus bercerita singkat, teringat dari mimpi yang kali ini isinya semua anak talamidz. Ceritanya mimpi pertandingan bola atau futsal gitu sih. Bertanding di lapangan yang entah dimana. Sampai beberapa babak. Efek setiap agenda classmeeting atau hari besar sekolah, para anak lanang ini requestnya bola teroos.

Lalu ada juga mimpi dimana sekolah sedang dibangun. Meski dengan posisi yang beda namun cukup mewah. Terlihat sekolah sedang dibangun beberapa lantai, dan anak-anak juga sudah mulai masuk sekolah. Ada anak yang sedang diluar kelas yang dihukum dijemur kalau tidak salah. Ada juga yang sedang dikelas.

Ada yang sedang dihukum karena tidak menggunakan jilbab dengan benar, akhirnya disuruh pakai jilbab lebih rapi. Lucu juga, karena dikelas ini kelas 7 dan 8 digabung. Bahkan ada dua anak yang memakai gaun gamis putih dan biru saking menutup hijabnya. Ini kelas 8 yang katanya saudara kembar beda ibuk, hayoo ada yang mau tebak siapa, hihi.

Nah, beberapa hari lalu mimpi yang cukup unik juga. Di sebuah mushola dan kelas tiba-tiba datang angkatan 3-5, dimana di dominasi dengan para murid di angkatan 5, yah karena mereka yang paling banyak dibanding dua angkatan lainnya mungkin ya. Datang berombongan, ada yang bawa kamera, ada juga yang main, dan salah satu anak angkatan 5 yang bawa busur panah. Karena pernah bilang ikut ekskul panahan kali ya, hehe.

Ada juga mimpi sekilas ada kelas 7 dan 8 yang diawasi main lempar-lemparan. Dan semalam, malah salah satu anak kelas 7 laporan absen kelas kerumah, sambil mencibir bercanda. Lalu memijit salah satu rekan guru. Kali ini lokasinya dirumah. Haha, tiba-tiba aja nih.

Masih banyak tentunya beberapa kejadian lain yang tentunya mimpi-mimpi berisi anak murid. Guru-gurupun juga. Belum si eneng kelas 8 yang tiba-tiba tinggi banget, lalu si ponakan, ada juga di kelas lagi belajar pramuka sama bapak pramuka sekolah. Hehe, hampir komplit semua agenda sekolah lah ya. Belum flashback dalam mimpi para angkatan 6 yang lulus tanpa jejak kali ini.

Begitulah, sekelumit mimpi yang diisi para warga sekolah. Apakah malam ini akan menjadi mimpi lagi diisi oleh mereka? Hehe, yang penting nikmati saja, dan mereka semua sehat.

Yuk, tetap berdo’a dan saling mendo’akan semuanya. Salam kebaikan.

Jumat, 29 Mei 2020 0 komentar

Bingung darimana, Ya Udah tentang sekolah aja.


Assalamualaikum sobat pembaca sekalian. Sudah dari tanggal 13 maret yang biasanya gerak kesana kemari, langsung bergerak dirumah aja sendiri. Yah mesti nggak semua aspek juga sih. Ah, kalau bahas ini sudah pusing dan mumet kali ya. Sudah banyak ahli sana sini dengan berbagai teori memberikan semua saji yang kita lahap sampai tak tertelan lagi.

Lantas apa yang mau saya bahas kali ini, apa yang dekat dengan saya saja. Berhubung tulisan terakhir desember 2019 lalu, jika masih banyak yang kurang sana sini mohon dimaklumi ya. Mau mencoba kembali mengisi blog ini dengan tulisan-tulisan ringan, receh, atau mungkin gaje. Yang penting menulis aja lah ya, hehe. Yang mau berselancar dengan tulisan-tulisan ringan saya di blog ini silahkan ya.

Oke, kembali ke tulisan yang ingin saya bahas kali ini. Tentang sekolah.

Kenapa sekolah, ya karena sekarang saya mengajar di sekolah, dan ini hal yang paling terasa selama stay at home dalam dua bulan lebih ini. Mengajar di salah satu SMP Swasta di Kota Bengkulu selama tiga tahun terkahir ini tentu banyak pembelajaran yang paling terasa dilaksanakan. Meski mungkin posisi status yang bukan tinggi disekolah, namun ilmu itu didapat dari learning by doing selama pembelajaran.

Bahkan untuk sekarang-sekarang teman komunikasi paling banyak didominasi anak murid dan wali murid. Sampai wali murid yang anaknya belum masuk, hehe. Di setiap komunikasi itu selalu mencari celah pembelajaran oleh para orangtua yang tentunya lebih berpengalaman dari segala sisi. Saya hanya memiliki secuil hal yang dimiliki dalam membantu anak-anak mereka. Berbeda dengan para orang tua yang darah daging semua sudah tercurahkan.

Maka, kadang merasa tidak enak yang besar ketka para ananda atau anak walimurid ini lebih mengikuti kata gurunya. Sering sekali kutipan seperti ini terlontar. Namun, hal itu jadi peluang untuk menjadi orangtua kedua bagi para murid. Menyamakan suhu dengan para orangtua, ketika mereka mencurakan beberapa bagian hidupnya kepada kita, apa yang diajarkan dan disampaikan jadi tidak beda jauh dengan apa yang dirasakan di rumah mereka.

Lantas, semua itu berubah ketika Negara api menyerang, #Cirini (Bahasa anak-anak sih gitu)
Yups, dua bulan lebih beradaptasi dengan semua perubahan mendadak dimana harus menolah semua pembelajaran dengan online. Adaptasi dengan aplikasi, keisapan kesigapan dan kematangan dalam melaksanakannya. Kerjasama antara orangtua – Guru – terutama murid sangat diperlukan. Miskomunikasi di satu sampai dua minggu awal tentu hal yang wajar. Karena perubahan ini perlu proses agar terbiasa, tidak seperti power ranger, tinggal bilang Henshin berubah deh dan punya kekuatan.

Dari tidak semua ananda yang memiliki fasilitas smartphone, atau gantian dengan orangtua yang juga mau kerja. Tidak semua ada laptop, dan tidak semua juga bisa mengoperasikan aplikasi pembelajaran yang ada dengan seketika. Gurupun jika mau disatukan suhu tentu ada yang bisa ada yang tidak, otomatis juga menggunakan yang paling bisa dikuasai untuk digunakan dalam proses pembelajaran onlinenya, dan mengakibatkan semua sistem tersedia dengan cara beragam. Di cocok cocokkan ajalah semuanya ya.hehe.

Namun, itu semua kondisi yang membuat kita harus menyesuaikan semuanya. Mau menyalahkan tentu tidak boleh. Semua apa-apa yang terjadi sudah ada ketentuan dan pasti ada hikmahnya. Banyak positif jika berkaca dari sudut pandang yang lain. Dari yang lebih meningkatkan kebersihan diri, menjaga agar tidak asal sentuh, auto tidak salaman dengan yang bukan mahrom, dan hal lainnya.

Kita bisa melihat juga yang lebih peduli dengan orang lain. Siapa yang lebih mengedepankan ego atau simpatinya. Terbuka semua deh sifat kita juga kan. Oke, kita kembali bahas terkait sekolah ya, hehe.

Setelah berjalan dua minggu awal belajar onlen di rumah. Banyak anak-anak yang mulai mengeluh. Rindu sekolah, pusing belajar onlen, dan sebagainya. Dari orangtua pun juga banyak yang memiliki cerita. Harus menjadi guru semua mata pelajaran, menghadapi pertanyaan yang tak tertahankan, dan lain-lainnya.

Para guru tak kalah shocknya dong. Namun terlepas dari itu semua, disini kembali kita memandang hal positifnya adalah bagaimana kita siap menghadapi keadaan dengan semua hal yang dadakan. Sehingga kita tidak menjadi orang yang ketinggalan jaman.

Sekarang kita bisa melihat, peningkatan kasus #Cirini yang semakin melonjak, para dewan atas langit yang entah mau seperti apa, belum lagi para sekitar kita yang masih bandel dengan kepedeannya berkeliaran kemana-mana. Sekarang semua pandangan mulai berubah. Sekolah lebih baik ditunda daripada terjadi apa-apa. Entah benar atau tidak, namun melihat headline salah satu Negara maju yang mencoba sekolah dengan keadaan baru ternyata gagal, dan kembali meliburkan sekolahnya karena ada anak yang terpapar. (koreksi jika salah ya)

Maka dari itu, sebagai salah seorang guru, juga berpendapat bahwa lebih baik berpisah sementara daripada berpisah selamanya. Tak apa mundurkan tahun ajaran baru satu semester, daripada masuk bikin semua pihak keteter. Bersabarlah dan mulai kreatif. Disini keluarkan semua ide dan inisiatif. Namun hanya bisa berpendapat dan menuliskan saja. Apapun keputusan dan kebiajakan atas semua yang ada, akan diikuti nantinya.

Dan dibagian terakhir ini, luaskan pandangan dan pikiran. Salah satunya bersiap dengan karya berikutnya yang inshaAllah akan saya proses terbit. Doakan ya, hehe. Kalau ada rezeki minimal satu judul buku maksimal dua judul buku. Kalau tahun ajaran baru ternyata tetap dilanjutkan juli ini, minimal satu judul buku, kalau ternyata diundur tahun depan  semoga bisa dua judul buku. Katanya kalau ide tidak disampaikan nanti hanya tersimpan saja, jadi saya sampaikan semoga banyak yang mengirimkan doanya, hehe.

So, untuk semua ayah bunda ananda dan semua guru seindonesia. Mari kreatif, banyak inisiatif, dan pinter-pinter otaknya diputer untuk nambah insentif (ups, hehe). Mari cerdaskan anak bangsa dengan segala cara dan jangan lupa selalu kirimkan doa. Salam kebaikan.

 
;