Selasa, 06 September 2016 2 komentar

Review Cerpen (dalam KumCer "Surat Dari Israel"), yang kemaren dapet tanggapan anak SMP yang jadi Baper

Ketika Cinta Memanggilmu
Kemuliaan hidup di dalam naungan illahi
Sepi dan sunyi dalam harap menjadi suci
Mencari cinta di balik kepekatan dusta
Aku memang bukan yang sempurna
Tapi aku bisa melengkapi apa yang tiada
Tak ada hidup yang tak bernoda
Tak ada putih tanpa hitam
Menapak sejenak dalam perjalanan hidupku
Ketegaran khadijah kesabaran Aisyah
Menjadi wanita dalam kemurnian-Mu

Ku lihat bait-bait puisi yang ku tulis dua tahun silam. Masih jelas kenanganku tentang masa itu, seorang laki-laki yang mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aku yang baru mencapai masa dewasaku hanya terpaku menerima kebenaran yang keluar dari mulut sang laki-laki itu.

Aisyah Nurul Khadijah, sebuah nama pemberian orang tuaku kepadaku.  Entah atas dasar apa sehingga nama ini yang menjdi identitasku saat ini. Dua nama istri rasulullah yang mulia, yang membuatku berpikir, apa aku pantas menyandang nama ini.

Masih dalam termenung ku melihat laut pantai panjang yang begitu indah. Ku nikmati deburan ombak yang begitu bebas mengekspresikan airnya, berbeda dengan diriku yang masih terbelenggu dalam perasaan yang tak menentu. Subhanallah, Allah lebih tahu yang akan di butuhkan oleh hamba-hambanya.

Kak aisyah... pulang yuk...” Si kecil Nabila mengagetkanku, ternyata waktu sudah sore dan aku harus segera pulang.

Iya, Nabila. Udah main airnya ? “

Udah kak, asyik kak tapi capek, sekarang nabila pengen bobo di rumah”

Ya udah, yuk kita pulang, biar Nabila bisa bobo di rumah”

Oke kak, tapi beli es krim dulu ya kak”

Lho tadi kan udah makan bakso dua mangkok, sama es kelapa tiga gelas, masa mau es krim lagi?”

Untuk dirumah, mau ya kak ya, kak aisyah cantik deh...”

Kamu ni, masih kecil udah bisa merayu, ya udah, kita beli buat ummi, abi, dan mas fajar sekalian”

Hore... kak aisyah emang keren”

Tiap sore aku harus menemani adik kecilku ke pantai untuk bermain. Adikku mempunyai penyakit yang aku tidak tahu apa namanya, tapi yang pasti dia tidak boleh di biarkan berfikir keras, atau dia akan pingsan. Mudah-mudahan Allah selalu melindungimu adikku, amiin.
*****
“Assalamualaikum...”

“Walaikumsalam, maaf dengan siapa ya?”

Ini dengan ukhti Aisyah Nurul Khadijah?”

Iya, afwan dengan siapa ya?”

Ini akhi Yusuf, afwan kalo mengganggu ukh, mau ketemu besok di kantin, ada hal penting, jazakillah ukh.”
Tut...tut...tut...
Ada apa dengan Yusuf pikirku, pertama kalinya dia menghubungiku, dan langsung membuat panik dengan nadanya yang mengagetkanku. Laki-laki yang begitu menjaga dirinya dengan lawan jenis itu tiba-tiba menelponku dan memberikan berita yang membuat berpikir. Mudah-mudahan semua tetap dalam lindungan Allah.
Kembali aku tertegun dalam renunganku, ketika lantunan suci ayat al-quran yang kubaca begitu terasa dalam. Terjemahan surat Ali ‘Imran ayat 91 membuatku berfikir tentang diriku yang masih banyak bergelimang dosa, apa aku bisa menjadi semulia aisyah dan khadijah seperti namaku.

sungguh,  orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas separuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong.(Ali ‘imran, 3:91)”
*****
Di kampus hijau ku tunggu Yusuf dtempat seperti yang di inginkan sebelumnya. Ku  lihat Yusuf bersama seorang muslimah dengan jilbab panjang biru muda di padu gamis pink, begitu anggun dan cantik.tapi aku bertanya-tanya siapa dia, pacarnyakah? Tidak mungkin pikirku. Ku tepis pikiran negatif itu.

“Assalamualaikum, afwan lama nunggu ya...”

“Waalaikumsalam, gx juga . Ada perlu apa?”

Kenalin ini mba’ ku, Annisa Zakiyyah “

Oh iya, ana Aisyah Nurul Khadijah, mba’ salam kenal”

Subhanallah bagus sekali namanya, mudah-mudahan jadi mulia seperti istri rasulullah ya “
 Deg, agak malu rasanya di puji seperti itu, tapi aku juga mengaminkan didalam hatiku.

Eh iya, jadi ada perlu apa akhi?”

Hm, biar mba’ ku aja yang ngomong ya, aku ada perlu, mau nemuin dosen bimbingan skripsi, gx apa ya, afwan, assalamualaikum” Tingkahnya membuat aku bingung, tapi ya aku juga tidak marah.

Dek aisyah, mba’ mau jelasin kenapa kamu di ajak ketemu kesini, mba’ mewakilin keluarga dan Yusuf, mau mengkhitbah kamu untuk menjadi pendamping adek mba’ si Yusuf”

Masyaallah, apa ini ya Allah, cobaan atau ujiankah. Apa aku siap dengan ini, dan bisakah aku menjadi semulia dan setia seperti khadijah dan aisyah. Air mata ini terasa ingin tumpah.

Dek, ada apa? Tidak usah langsung di jawab, boleh kamu pikirin dulu. Kamu kan juga udah semester akhir, jadi mba’ dan keluarga insyaallah setuju dan menerima.”

Iya mba’ ”

Aku tak bisa berkata-kata lagi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, andai ummi ku masih hidup tentunya beliau bisa memberikanku jalan keluar. Sekarang abiku menikah dengan seorang muslimah lain, memang dia baik, tapi tetap tidak bisa menggantikan sosok ummiku, dan Nabila adalah anak yang di bawa oleh Ummi tiriku.

Ya udah mba’ pamit dulu ya, mba’ berharap kamu bisa memikirkan ini baik-baik, assalamualaikum”

“ waalaikumsalam...”
*****
Aku  terbangun dan aku tidak tahu berada dimana. Aku lihat sekeliling dan sepertinya aku berada di rumah sakit. Jadi bayangan-bayangan tadi di dalam mimpiku. Aku seperti baru saja benar-benar mengalaminya.

Kak aisyah udah bangun, ummi,abi, mas fajar, kak aisyah udah bangun”

“Nabila, udah berapa hari kakak disini?”

Kamu udah seminggu koma aisyah” tiba-tiba abiku masuk ke dalam ruangan

Masyaallah, apa yang terjadi hingga aku koma begitu lama “kenapa Aisyah bisa dirumah sakit bi?”

Kamu di tabrak mobil truk dan langsung tidak sadarkan diri, temanmu Yusuf yang memberitahukan kejadian ini”
Aku langsung ingat. Bayangan terakhir dalam mimpiku itu adalah hari dimana aku kecelakaan.
*****
Alhamdulillah sudah tiga hari aku siuman dan sudah bisa menikmati nafasku seperti biasanya, tapi masih di atas tempat tidur, karena kakiku patah dan belum bisa digerakkan. Sambil melihat pemandangan di luar, ku goreskan beberapa bait puisi singkat.

Jantungku tiba-tiba terasa sakit, sangat pedih, dan tiba-tiba terbayang wajah Yusuf. Ku teringat dia yang mengkhitbah melalui mba’nya beberapa waktu lalu. Belum sempat ku beritahu orang tuaku. Aku setuju dan ingin menjadi Khadijah dan Aisyah  untuknya, tapi sekarang aku sudah merasa tidak kuat.

Ku ucapkan dua kalimat syahadat, kulihat beberapa dokter, keluargaku dan keluarga yusuf masuk ke kamar, dan itu yang kulihat terakhir. Tiba-tiba sebuah bayangan putih mendekat, dan memanggilku untuk ikut bersamanya. Aku merasakan ketenangan, terasa sebuah cinta yang begitu damai, Allah memanggilku karena cinta yang mulia.

Ku ingin menjadi semulia Khadijah yang selalu mendampingi rasulullah dalam hidupnya, dan kemuliaan Aisyah yang menjaga rasulullah hingga Rasulullah meninggalkannya.
Senin, 05 September 2016 0 komentar

Keinginan jujur belajar anak kelas satu SMP



Diamanahkan untuk bisa mengajar tentu bukan hal yang mudah. Jika hanya memberi soal dan menilai tentu semua orang bisa melakukannya. Namun sebagai seorang pengajar ada hal yang lebih yang harus bisa diberikan kepada anak muridnya, atu bisa di anggap anaknya sendiri, karena di sekolah kitalah orang tua mereka.

Setelah pertemuan pertama di tiga kelas di SMP tempat saya akan mulai magang mengajar, saya masih melihat tingkah laku, kenyamanan, dan karakter setiap anak. Mengajar kelas satu sampai tiga tentunya berbeda cara dan rasa, apalagi kelas satu.

Di kelas satu adalah murid yang paling banyak jika dibandingkan dengan kelas dua dan tiga. Dengan perpindahan suasana dan pemikiran dari SD ke SMP tentu bukan hal yang sekejap. Setelah melewati dua bulan memasuki dunia SMP, tentunya ada sedikit perubahan yang mereka rasakan. Dalam dua kali pertemuan di minggu sebelumnya, 21 anak di dalam kelas itu sudah mulai terperhatikan oleh mata saya.

Saya menangkap beberapa anak khusus yang gayanya sedikit berbeda dari teman kebanyakan. Ada Nanda, yang sepertinya belajarnya perlu dengan perhatian khusus, ada Ikram, si kacamata serius yang ternyata memang memiliki kondisi tersendiri untuk belajar dengan dunianya. Ada juga si ketua kelas Gilang, bukan berarti tidak bisa senyum, keseriusannya menunjukkan ketegasan diri akan tanggung jawab kelas.

Di lain sisi, pada perempuannya, ada yang menarik perhatian ketika belajar dan mengerjakan latihan, murid satu ini bereksperimen dengan cat air di atas sampul bukunya, hal ini menjadi unik sendiri. Ada juga sang sekretaris Rissa, yang ternyata tidak mau di kacangin, jika sedang bertanya atau ingin mengutarakan sesuatu.

Yah, baru dua kali saya masuk kelas satu, tentunya informasi yang saya dapat untuk mengenal mereka juga terlalu sedikit. Di pertemuan terakhir minggu lalu, setelah pelajaran, saya meminta mereka menuliskan di kertas, tentang materi hari itu dan gaya belajar yang mereka suka.

Cukup mengejutkan dan banyak yang membuat tersenyum juga. Goresan kecil dan jujur mereka membuat saya lebih membuka pikiran untuk kembali belajar dan menggali ilmu. Meskipun kenyataannya terkadang cukup rame di kelas, sebagian besar dari mereka mengungkapkan bahwa ingin belajar dengan suasana yang tenang. Bahkan dengan polosnya salah satu anak ingin agar belajar tidak di dalam kelas terus.

Saya agak berpikir deh, kan baru masuk dua kali di dalam kelas, mungkin dua bulan sebelumnya juga benar-benar di dalam kelas ya. Hal ini menjadi sebuah pemicu kreatifitas dan ide gila baru yang harus saya lakukan untuk mengajar mereka. Sip, saatnya menembus batas kemampuan untuk yang berikutnya..

Salam berkarya
0 komentar

Open House FKSI : Tahun ke dua, Cerita lama yang kembali terbuka.



4 september 2016, satu hari sebelum umur ini genap 22 tahun. Kembali berbagi cerita di agenca yang sama dalam tahun kedua pada generasi yang berbeda. Open House FKSI, Fakultas Ekonomi.



Tahun lalu di tanggal 5 September 2015, alhamdulillah juga berkesempatan untuk berbagi cerita kepada mahasiswa baru di agenda yang sama, dengan sahabat-sahabat pemateri yang berbeda.

Jam sepuluh acara talkshow dimulai, ada empat orang berprestasi yang terlebih dahulu cerita motivasi tentang prestasinya. Pertama Anjas Rizky, beliau adalah seorang gubernur Fakultas Ekonomi saat ini. Baru saja pulang dari perjalanan KKN Kebangsaannya di Riau yang juga berbatasan langsung dengan negara Singapura. Mendengar rekam jejaknya menjadi gubernur, wah saya bukan apa-apaa dibandingkan beliau.

Berikutnya adik tingkat sendiri, Alheru Akbar. Sekarang menjabat sebagai Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Bengkulu. Kalau berbicara tentang presstasi tentu aja tidak sebanding dengan beliau. Namun ketika talkshow berjalan dan bercerita tentang langkah-langkah awal beliau menapaki perjalanan di kampus ada satu moment yang membuat sayapun cukup kaget.

Heru, panggilannya, bercerita salah satu moment ketika seorang kakak tingkat ketika dia menjadi mahasiwa baru menantangnya untuk bisa mendapatkan IP yang cukup tinggi dengan target tertentu. Dan ketika di tanya ternyata orang itu adalah saya. Saya yang duduk di belakang masih ikut m,enghadiri acara tertegun. Ternyata pernah melakukan itu, cukup kaget karena sudah hampir empat tahun berlalu, dan ada rasa haru sendiri mendengarnya.

Sekarang melihat dirinya yang lebih hebat, sudah keliling kota dan negara, menjuarai lomba di beberapa event, menjadi mahasiswa berpresstasi Universitas dan sekarang Wakil presiden mahasiwa. Entahlah ada kebanggan sendiri melihat Heru yang menjadi luar biasa.

Lalu pemateri ketiga, ada Muhammad Robi. Tahun lalu persis beliau yang mengundang di acara yang sama, ketika masih menjabat sebagai ketua umum FKSI tahun lalu. Sekarang sudah menjadi pematerinya, pencapaian yang luar biasa, yang berarti kemampuannya di akui untuk bisa dihadapkan pada public.

Seperti heru tadi, Robi panggilan akrabnya, menceritakan satu moment ketika proses dia untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Ketika itu adalah saat dia ingin membuat karya tulis ilmiah. Robi flashback ketika itu saya dan kakak tingkatnya yang mengompori dirinya untuk bisa membuat karya tulis yang baik dan mempresentasikannya.

Ketika Robi menyebut salah atu nama saya, lagi-lagi kembali tertegun, tertawa sendiri di dalm hati, ternyata pernah sekejam itu ya. Dan sekarang melihat sosok Robi yang sudah memiliki pencapaian yang tentunya memiliki pencapaian yang sangat hebat, membuat saya juga mengaguminya sebagai seorang yang luar biasa.

Terakhir ada khoirunnisa, atau akrab dipanggil mbak Nisa. Dengan basic prestasi dari kemampuan menulisnya, Nisa banyak bercerita awal mula dia mulai menyukai dan mencoba untuk menulis. Dan sebelum menerbitkanbuku seperti sekarang, Nisa sendiri sudah terlebih dahulu memenangkan beberapa lomba menulis puisi dan cerpen.

Dalam penutupnya, meskipun terrlihat sederhana, Nisa kembali membawakan syair atau puisi belajar dan berprestasi, namun ternyata rangkaian kata yang di rangkainya seperti syair yang tidak terduga. dan sekrang beliau menjadi salah satu sosok figur bagi adik-adik baru di FKSI.

Lalu dibandingkan saya, saya lebih senang ketika melihat mereka semua memberikan cerita motivasinya kepada para mahasiswa baru. Apa yang saya sampaikan hanyalah segelintir kecil dari apa yang mereka berempat punya. Meskipun sering dikatakan provokator, tapi itulah ternyata yang paling sering saya lakukan di sepanjang perjalanan bertemu dengan orang-orang hebat.

Tahun kedua ini, FKSI kembali memberikan kesan yang baik dengan mengolah acara yang lebih apik lagi, terutama di awal-awal sempat lucu  dengan moderator yang memecah suasana, hehe.

Sedikit cerita tepat sebelum hari pertama masuk kuliah,

Salam Berbagi, salam berkarya.
Sabtu, 03 September 2016 0 komentar

Tulisan spontan Satu Hari Menulis, Batch 1

Pagi ini adalah hari dimana mulai kegiatan satu hari menulis, aku mulai bangun di pagi hari dengan semangat, tapi rasa capek dan kantuk yang menyerang membuat setelah tilawah tidur lagi, hehe mager dikit sih.


Nah, pas bangun udah jam tujuh aja, langsung mandi dan berpikir bahwa akan pada datang semua peserta yang sudah mendaftar. Tidak terlalu banyak sih ada sekitar delapan orang yang mendaftar di kegiatan yang baru pertama kali saya adakan hari ini, namanya juga uji coba.

Niatnya bisa berjalan lancar dan bisa menghasilkan banyak tulisan dari delapan orang yang ikut nantinya, maka dari itu berharap bisa dijalankan lancar dan bisa bersambung kedepannya.

Setelah mandi, dhuha, dan makan kripik, hihi lagi malas sarapan udah ada tenaga dari makan malam sih. Langsung hidupin motor dan hapalan satu ayat al-insan. Siapin kamera bentar capcus deh ke tempat yang sudah disepakati.

Beli baterai dan snack dulu di warung, semoga yang lain juga pada bawa snack. Lumayan bisa saling berbagi sih ya, hehe.

Jam delapan kurang tujuh menit sudah di samping danau. Sampai jam delapan lewat satu menit belum ada yang datang, bismillah aja sih, mungkin rumahnya masih jauh, atau ada yang belum berangkat. Sudah lewat jam delapan lima belas, alhamdulillah akhirnya ada satu yang datang, Dita namanya, meskipun sudah ada satu belum bisa dimulai, ya masa berduaan aja kan. Akhirnya menunggu lagi deh.

Sembari menunggu ditemani suara kicauan burung dan mesin pemotong rumput yang sedang berbunyi melaksanakan sarapannya membabat rumput-rumput yang berdiri cantik, saling sharing tentang menulis.

Ternyata Dita juga orang yang sudah cukup membiasakan diri dengan menulis biarpun belum sering melakukannya. Dan sambil mengeringkan jok motor yang basah terkena hujan, saya juga berbagi awal menulis dan mengapa mencoba mengadakan kegiatan ini.

Setelah agak lama bercerita waktu sudah mulai memasuki pukul sembilan. Harap-harap cemas belum ada yang datang, takut kegiatan ini tidak jadi dilaksanakan. Sebelumnya sih ada Khoirunnisa yang izin telat untuk datang kegiatan, dan arif yang datang nanti sore, tapi semua itukan belum pasti, makanya kalo nggak ada yang datang nggak enak banget dong kalau sampai batal.

Nah, melihat dari jauh ada motor matic yang datang, dan sepertinya kenal dengan gayanya. Ternyata benar deh tebakan, ada roida yang datang.

Lalu tidak lama, karena sudah jam sembilan ngaret satu jam dari rencana awal, kami langsung mulai kumpul di samping danau Universitas Bengkulu, dan memulai kegiatan.

Meskipun bertiga tapi yang semuanya memiliki pengalaman dan kesukaan di dunia tulis menulis membuat saya tetap merasa enak dan nyaman, karena sharing ini akan berlanjut dengan menambah ilmu baru pastinya.

Nah inilah tulisan pertama, di setengah jam awal, setelah pembukaan sebentar kami langsung melakukan menulis spontan, tanpa tema dulu. Menulis kejadian yang dilakuakn dari pagi sampai sekarang kami berkumpul dan melakukan tulisan.

Pengetikan tulisan asal ini bukan tanpa tujuan, untuk membiasakan tentunya harus bisa menulis dalam keadaan apapun kan? Makanya kegiatan hari ini tujuan yang penting bisa menulis dan terbiasa menulis.

Dengan nyamuk di dekat danau yang berkeliaran ini aku masih terus menulis menghabiskan waktu setengah jam dari kegiatan pertama menjulis spontan ini, hehe. Ini udah nggak tahu apa yang mau ditulis. Yang baru juga setengah jam tapi udah nggak terasa sih, karena waktu sudah menunjukkan delapan menit lagi menuju setengah sepuluh, atau setengah jam semenjak kami memulai tulisan spontan ini.

Lumayanlah dapet nulis lima ratus kata lebih dengan ide yang mengalir dan tulisan yang tidak perlu dipikirkan terlalu berat. Ingat ya, yang penting terbiasa menulis lalu kamu akan bisa menulis. Tidak harus wah yang penting bisa bermanfaat, bukankah menyederhanakan sesuatu itu lebih enak dan mudah dipahami.

Kayaknya cukup ini dulu deh ya. Nah kegiatan kami satu hari menulis ini akan sampai jam empat rencananya, dan delapan puluh persen kegiatan yang dilakukan adalah menulis, jadi sudah sedia laptop dan amunisi lainnya untuk melakukan kegiatan menulis ini. Dan inilah tulisan pertama dalam kegiatan hari ini. Dari jam sembilan sampai setengah sepuluh. Acak-acakan dan amburadul sih, yang penting kan menulis ajalah ya, hehe. Okedeh,

Salam Berkarya.
Jumat, 02 September 2016 0 komentar

Mengajar Murid Seperti Mengisi Peserta Seminar

Assalamualaikum,
 
Alhamdulillah masih di sempatkan menulis hari ini, setelah cukup berkutat seharian dengan para murid dan kembali belajar pelajaran SMP.

Tulisan ringan kali ini, bercerita tentang yang saya alami beberapa hari ini dan akan terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.

Rabu kemaren pertama kalinya saya mulai mengajar di salah satu SMP di Bengkulu, untuk menggantikan sementara guru pengajar yang cuti karena melahirkan.

Sudah lama tidak mengajar ada perasaan grogi dan kaku yang saya alami, apalagi pertama mengajar langsung di hadapkan dengan kelas tiga, tentu ini akan menjadi tantangan dan amanah yang lebih berat karena mereka akan menghadapi persiapan untuk ujian dan lulus dari sekolah.

Ketika pertama kali test untuk mengajar saya sempat bingung harus melakukan apa. Karena pertemuan awal, akhirnya melakukan perkenalan. Lalu mulai mencoba memasuki materi sesuai yang di suruh oleh Guru sebelumnya. Yang semakin membuat grogi adalah karena di perhatikan oleh dua guru untuk menilai micro teaching pertama.

Akhirnya sekitar dua jam pelajaran yang saya lakukan, saya tutup dengan ice breaking seperti ketika mengisi seminar. Ketika keluar tertawa sendiri karena merasa belum melakukan apa-apa.

Dua hari ini kebetulan guru yang bersangkutan sedang libur, alhasil saya langsung menggantikan untuk mengajar kelas satu dan dua sekaligus, dengan watak murid yang beragam aklhirnya dengan gaya yang saya bawa ketika mengisi seminar, saya membuat kesepakatan.

Alhamdulillah meskipun saya harus belajar lagi materi bahasa inggris sesuai kompetensi saya itu menjadi kenikmatan tersendiri. Membbuka dan membaca lagi semua tentang tenses, preposition, bahas soal ujian, huh, awalnya bingung sih, tapi mulai menikmati lagi.

Meskipun hanya sementara untuk tiga bulan menjadi guru tetap saja hal itu menjadi pengalaman yang tidak singkat, harus menghadapi 40 orang siswa yang dipahami karakter setiap orangnya.

Suasana kelas yang saya bikin sama sekali tidak terasa seperti kelas, karena lebih sering mengisi seminar motivasi, meskipun saya panggil mereka murid dan konsep tetap belajar sekolah, yang saya bawakan akhirnya seperti seorang trainer dengan maintynya. Dan tetap tertawa serta santai membawa kondisi kelas. 
Bahkan hari ini di kelas terakhir, penutup kelas para murid meminta saya sedikit ber beatbox membuat suara terompet dengan mulut.

Tidak masalah bagaimanapun caramu, yang penting tujuan dan pemahaman yang tersampaikan oleh murid mampu di tangkap.

Jangan batasi diri, terus tingkan kapasitas diri,

Salam semangat, Salam berkarya...

Kamis, 01 September 2016 7 komentar

Satu orang penakut Bersama Satu orang penakut, menjadi Setengah Orang pemberani.

Tulisan kali ini sedikit bercerita tentang perjalanan kami beberapa hari lalu,

Kepulangan kami dari travelling beberapa hari lalu dari perjalanan Bengkulu-Argamakmur memberikan beberapa pengalaman, salah satunya dengan ketakutan sendiri.

Ketika perjalanan hari kedua saat sudah hampir sampai di Bengkulu utara Argamakmur, beberapa hal yang mewarnai kelelahan kami menghampiri salah satunya Anjing.

Entah sudah berapa kali Saya dan teman saya yang melakukan perjalanan ini, digonggong anjing ketika melakukan perjalanan melewati rumah-rumah. Sejujurnya jika itu di tempat ramai hal itu tidak akan terlalu pengaruh karena tempatnya tentu akan banyak yang melihat, namun di sisa perjalanan kami untuk sampai ke tempat tujuan hal ini berbeda rasanya.

Sekitar pukul sembilanan, kami sudah melewati gapura selamat datang di Bengkulu Utara, namun masih menyusuri sekitar 3 kilometer lagi untuk sampai di kotanya.


Ketika ada melewati salah satu rumah dipinggir jalan dengan lelahnya kami mulai berjalan dengan sangat pelan. melihat seorang bapak yang sedang menyadap karet di sebelah rumahnya, hanya menoleh sebentar dan kami lanjutkan dan tiba-tiba...

Guk...Guk...

Seekor anjing menggonggong, kami tidak bisa berbuat banyak, yang penting terus berjalan tanpa menoleh ke Anjing tersebut. Namun tidak seperti anjing-anjing sebelumnya yang kami lewati dalam perjalanan, dicuekin tidak berpengaruh kepada anjing-anjing ini, dan karena gonggongan ittu, ada anjing lain yang datang, dan jaraknya tidak jauh lagi hampir kami digigit. Bersyukur akhirnya tidak di kejar.

Karena sedikit panik, lepuhan yang ada di kaki saya sempat pecah, dan setelah merasa aman dari anjing tersebut, kami istirahat sebentar.

Setelah sekitar lima belas menit, kami kembali melanjutka perjalanan. ketika sampai melewati salah satu rumah, terlihat lagi seekor anjing yang sepertinya berjaga di depan. hanya sedetik melihat dan kembali menoleh, Anjing itu sudah menggonggong dan membawa tiga anjing yang lain.

Kali ini benar-benar beda, awalnya kami cuekin saja anjing-aning itu, namun ternyata mereka malah mengejar dan terus mendekati kami. tidak sampai satu meter lagi kaki saya dan teman saya akan digigit, kami sudah saling berpegangan tangan, karena ingin lari pun badan sudah terlampau lelah. Akhirnya kami cuma bisa pasrah sambil terus berjalan tanpa menghiraukan anjing yang semakin mendekat untuk mengejar kami.

Beruntung pemilik Anjing memanggilnya dan akhirnya para Anjing itupun akhirnya pergi dan perasaan kamipun lega.

Haha, kami hanya tertawa sendiri, kedua orang penakut yang menjadi setengah berani ketika di hadapakan oleh ketakutan yang sama,

Salam berkarya, Salam berbagi

 
;