Minggu, 19 Februari 2017 0 komentar

Mutiara Bengkulu, Penggerak dan Menginspirasi : Milda Ini


Aloha, Salam teman blogger. Kali ini saya menulis ulasan tentang seseorang yang menjadi pendorong juga pencetus sekaligus saya katakan seorang mutiara Bengkulu. Lagi-lagi karena gagal tugas, kembali melalaikan tulisan ini yang seharusnya sudah di posting lima hari lalu. hiks, lagi-lagi salah.

Oke, langsung saja saya perkenalkan orang yang sudah pasti kalian semua banyak kenal, semoga ya, hehe. Milda Ini namanya, saya memanggilnya dengan panggilan Mbak Milda.


Mengenalnya pertama kali dalam sebuah agenda kepenulisan dalam sebuah komunitas, yaitu Forum Lingkar pena. Yah sebuah komunitas kepenulisan yang memang sudah besar dan terkenal di seluruh Indonesia ini bukan lagi hal yang asing. Tapi memang di Bengkulu sendiri saat itu FLP singkatan dari komunitas ini belum terlalu booming.

Ikut dalam kegiatan perekrutan pertama, membuat saya mengenal teman-teman baru yang berkecimpung juga di dunia kepenulisan, dan disanalah bertemu dengan ketua FLP Bengkulu yang gaul dan asyik dalam berkomunikasi. Memiliki target dan batas yang jelas dalam setiap perkataannya tetap tetap menghadirkan suasana yang nyaman dan bersahabat.

Pertemuan kedua ketika ada acara bedah buku pada 2013 lalu sekaligus seminar kepenulisan yang diadakan FLP bekerjasama dengan UKM P3M, salah satu organisasi yang ada di Universitas bengkulu. Mbak Milda yang menjadi pembicara bersanding dengan salah satu penulis nasional Mas Gol A Gong.

Mendengar penyampaian dari dua orang yang sama-sama menakjubkan membuat saya juga merasa mendpat suntikan baru dan mulai menapaki sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya yaitu dunia menulis.

Saya pun mencoba menjadi salah satu peserta yang aktif, dan sempat lolos diantara lima tulisan singkat yang diseleksi saat acara untuk mendapatkan buku dari Mas Gol A Gong dengan judul Balada Si Roy. Dua tulisan singkat terpilih, yaitu Saya yang saat itu belum memiliki karya apa-apa hanya suka menulis saja, dan satu lagi seorang penulis bengkulu yang menginspirasi yang sedang bersinar, mbak Chica KE.

Meskipun setelah di seleksi lagi tulisan yang lolos, adalah punya mbak Chica, saya tetap merasa senang karena menjadi salah satu yang dinilai baik oleh dua orang pemateri yang menginspirasi.

Dalam beberapa agenda kepenulisan hampir saya selalu menjumpai mbak Milda. Sebagian besarpun dirinya menjadi penyelenggara acara tersebut.

Satu lagi agenda yang masih saya ingat, yang menjadi salah satu dari bagian seleksi untuk menjadi anggota FLP secara Resmi. Ketika bedah buku dengan seorang penulis dari Jawa Timur, lagi-lagi Mbak Milda bersanding dengan penulsi besar sebagai seorang pemateri. Bersyukur lagi saya mendapatkan doorprize buku diacara ini, hehe.

Sekitar satu tahun lebih saya cukup vakum mengikuti kegiatan kepenulisan. Keanggotan saya di FLP pun tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Tahun 2016 saya kembali mendapatkan banyak info baru, dan dipertemukan lagi dengan sosok Mbak Milda yang membakar semangat saya dan menginspirasi dalam menulis.


Kali ini beralih pada kepenulisan blog. Awalnya saya mulai menulis blog di akhir juli terinspirasi dari seorang blogger yaitu Bang Syaiha, yang ternyata juga orang Bengkulu. Nah di bulan Agustus mendapatkan info tentang sebuah komunitas blog di Bengkulu, yang sekarang disingkat dengan panggilan BOBE (Blogger Bengkulu).

Saat gabung, lagi-lagi bertemu dengan seorang ibu yang selain mengurusi rumah tangga namun karir menulisnya tidak berhenti dan vakum. Mbak Milda kembali hadir menjadi sosok penggerak dalam komunitas ini.

seiring berjalannya komunitas, Mbak Milda sendiri juga menerbitkan buku yang menunjukkan produktivitasnya dalam menulis. Buku tentang nutrisi ibu hamil dan menyusui berdasarkan golongan darah. Nah, yang ibu-ibu cocok banget nih ya, hehe.


Sekarang perlahan tapi pasti, komunitas blog yang diketuai Mbak Milda, menunjukkan hasilnya. Banyak relasi yang mulai menjalin hubungan untuk terus mengembangkan potensi yang ada di Bengkulu melalui Mbak Milda serta komunitasnya.

Tak banyak yang bisa dijabarkan, tapi dari beberapa mutiara Bengkulu, saya bisa katakan dia lah salah satunya, jika ingin bercengkarama dengan beliau langsung saja kontak disini ya...

Mildaini
Twitter : @mildainibkl
Instagram :  @mildaini.bkl

Minggu, 05 Februari 2017 0 komentar

Banyak Membaca Belum Tentu Banyak Menulis



Banyak yang bilang kalau ingin mudah menulis maka perbanyaklah membaca. Bahkan dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi kita, Muhamaad SAW, perintahnya adalah ‘Bacalah’. Lalu baru di ayat keempat membahas tentang pena (menulis).


Namun  memang menulis tidak semudah yang dibayangkan. Yap, ini sesuatu yang selalu hampir dipermasalahkan penulis pemula. Sayapun termasuk diantaranya.

Menulis katanya membutuhkan banyak hal teknis yang mampu membuat tulisan itu sarat dengan makna dan isi. Kalau boleh menguip perkataan Andrea Hirata, salah satu penulis nasional pernah mengatakan seperti ini.

“Ada dua aspek yang perlu dimiliki oleh seorang penulis. Aspek Teknis dan non-teknis. Aspek teknis seperti halnya teori menulis dan susunan cara menulis itu bisa dipelajari dimanapun dan kapanpun. Nah, yang cukup berat dimiliki adalah aspek non-teknis. Hal ini berkaitan dengan tekad dan semangat yang kuat dalam menulis”

Rasanya apa yang diungkapkan Andrea Hirata ada benarnya. Hal yang paling banyak membuat seorang penulis berhenti ditengah jalan adalah tekadnya yang kurang. Menulisnya hanya sekedarnya saja dan kapan mood. Sedangkan penulis lain pernah berpendapat, bahwa tidak ada yang namanya mood di dalam menulis.

Mungkin jadi pertanyaan. Kalo mood sedang jelek tulisannya nanti nggak bagus dong?

Nah disinilah bagaimana caranya diri kita melatih untuk bisa menulis dalam kondisi apapun. writer block, macet, atau apalah namanya pasti akan dirasakan oleh kita sebagai penulis. Untuk naik level dan kelas tentunya harus bisa melewati itu kan?

Kembali dengan judul keterkaitan antara membaca dan menulis. Sebenarnya hal ini adalah pengingat bagi diri sendiri. Semenjak menetapkan target bacaan yang ingin diraih dalam tahun ini, jika ada waktu kosong saya mencoba berburu bacaan. Jika yang cetak sedang habis, maka e-book pun saya lahap.

Dua hari ini semua yang saya lakukan hampir diiringi dengan kantuk dan tertidur. Kemarin membaca dua e-book sampai terkantuk. Hari ini menulis juga begitu. Tulisan ketiga inilah yang saya lakukan dalam kondisi yang masih cukup melek, karena selepas sholat.

Kurang lebih sembilan komik, tiga e-book, dan dua buku yang sudah tuntas saya baca dalam seminggu ini cukup memberikan banyak gambaran akan ide yang mondar-mandir. Tapi beberapa hal membuat tulisan saya sedikit menurun.

Lihat saja, ini hari kelima Februari. Tapi di awal bulan kedua ini saya baru mampu menuliskan tiga tulisan. Itupun yang saya porsir dalam satu hari. Tapi tidak perlu menyalahkan keadaan, yang salah ya saya sendiri tidak mampu membagi porsi dengan baik atas kegiatan yang dilakukan. Hm semoga target 430 tulisan di blog untuk tahun ini bisa tercapai, aaminn.

Nah, masih sulit menulis ya sudah tulis saja. Ada konsep namanya menulis jelek. Maksudnya kamu cukup menulis apapun yang ingin kamu tulis. Dengan begitu kamu akan melakukan kebiasaan menulis, seperti apa yang saya lakukan ini. Tulisan ini berantakan dan tidak jelas kan? Hehe. Yah kan yang penting menulis ya.

Salam Kebaikan.
0 komentar

Lagi-Lagi Nikmat Tuhanmu Yang Manakah Yang Kamu Dustakan?



Tak pernah untuk terpikir dan menghitung setiap nafas yang sudah dihirup. Andaikan diminta bayarannya apakah akan sanggup? Jadi, nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.


Apakah pernah berpikir jika kedua tangan tidak diberikan, bagaimana akan bisa melakukan sesuatu yang begitu banyak. Namun masih saja jarang bersyukur. Lagi-lagi nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Masih mendapatkan kesempatan untuk hidup hari ini, yakin masih bisa hidup esok hari? Tapi sadar akan banyak dosa, kenapa setiap hari yang diberi tidak kunjung dijadikan waktu untuk bertobat. Maka, nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Masih kecil udah punya HP canggih pula. Atau ketika SMP bahkan sudah di antar pakai mobil. Mungkin SMAnya sudah dapat motor sendiri. Oh, Lulus kuliah sudah ada perusahaan keluarga yang tinggal dijalankan. Lantas, nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Alhamdulillah, bisa makan enak lagi hari ini. Tinggal beli dan ada yang masakin. Tak perlu capek menanam dan semua kebutuhan udah disediakan. Lalu, nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Enaknya masih bisa tidur. Badan lelah, tempat melepas penat ada sofa empuk dengan guling lucu. Lalu nikmat tuhanmu yang manakah lagi yang kamu dustakan?

Tapi sayang, masih banyak rasa kesal hanya karena uang jajan kurang untuk bulan ini. Maka itulah nikmat tuhan yang kamu dustakan.

Kasihan juga, orang tua dibentak hanya karena tidak bisa membelikan baju dan sepatu yang diinginkan. Lagi-lagi ada nikmat tuhan yang kamu dustakan.

Makanan yang ada tidak dihabiskan. Sudah di beli tapi setengahnya kau buang. Ibu memasak makanan, kau mengatakan tidak enak dan mengacuhkannya. Ternyata memang itulah nikmat tuhan yang kamu dustakan.

Rokok, narkoba, minuman keras, oplosan, kau tenggak dengan bangganya. Badan rusak pikiranmu kacau. Kau salahkan sekolah yang tak mendidikmu, dan orang tua yang tak mengurusmu. Lagi-lagi, kau mendustakan nikmat tuhan yang diberikan.

Kita selalu tidak memperhatikan betapa banyak nikmat yang sudah diberikan setiap saatnya. Bahkan tanpa meminta, semua itu sudah tersedia dengan nyaman dan aman. Namun, seberapa banyak dari kita yang memperhatikan itu?

Sungguh, memang tidak ada nikmat tuhan yang bisa kita dustakan. Namun kita sendiri yang tak pernah lelah mendustakannya. Betapa sering hal itu terjadi pada setiap hari, jam, bahkan menitnya. Apakah semua yang sudah dinikmati sekarang masih terasa kurang? Lantas jika Allah tak perlu repot-repot memberikannya apkah malah akan balik meminta?

Itulah kita, semua serba tak ada kejelasan. Saat suka selalu alpa dan lupa dengan apa yang harus dikerjakan. Ketika susah, sibuk berdoa dan meminta sampai nangis darah. Sekali lagi tanya pada diri sendiri, nikmat tuhan yang manakah yang perlu didustakan?

Interopeksi diri dan renungi lagi. Lihat apa yang ada disekitar dan yang sudah dialami dari pagi sampai tidur lagi. Betapa tidak sedikit sesuatu yang tidak perlu diminta dengan susah, diberikan kepada kita dengan amat mudah. Jika Dia sudah berkata ‘Jadilah’ mau bilang apalagi coba?

Masih ingat sebuah pesan yang mengena untuk menjadikan pencerahan bagi semua.

Ketika menimbang dan menghitung tentang hal dunia yang ada, lihatlah ke bawah, agar kita bisa lebih bersyukur dengan apa yang sedang dijalani. Lalu ketika berurusan dengan hal akhirat lihatkah ke atas, dengan begitu akan tahu bahwa apa yang sudah kita lakukan belum ada apa-apanya.

Lagi-lagi kita memang harus mampu menikmati seluruh nikmat yang diberikan. Maka sangat pas jika ditanya, Maka nikmat tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?

Salam Kebaikan
0 komentar

Kita Semua Orang ‘Gila’



Berbicara tentang sebuah kegilaan, tentu setiap kita memiliki pendapat dan persepsi masing-masing. Namun jika ingin mengambil definisi umum kalau orang gila adalah yang sebagai berikut maka kita semua pernah menjadi orang Gila.


Pertama, memiliki dunia sendiri. Berapa banyak kita yang dikatakan normal tapi sering banyak melakukan hal diluar dari kebiasaan. Apa yang dilakukan itu menurut kita sangatlah asyik dan menarik, tapi tidak bagi orang lain.

Coba perhatikan anak kecil yang berumur balita. Mereka selalu asyik dengan dunia mereka. Melakukan semuanya dengan riang, bahkan apa yang mereka katakan dengan vokal bicara yang belum terlalu jelas bagi kita, jarang bisa dimengerti.

Lalu, apakah kita harus mencap anak itu orang gila? Apalagi kalau anak sendiri, nggak mungkin kan, hehe. Ingat, lagi-lagi ini masalah persepsi ya, yang saya tulis tentu dari pandangan dan pendapat saya saja kok, so tak perlu berdebat ya, cukup masukan.

Berikutnya, suka berbicara sendiri. Nah untuk yang satu ini sadar tidak sadar hampir setiap orang pernah melakukannya, bahkan bisa jadi sering. Paling tidak, sering berbicara dan bergumam di dalam hati sendiri.

Kita yang dewasa (cie merasa dewasa) jika sedang memegang anak bayi yang rentang umur 5 bulan sampai 1 tahun sering kita mengajak mereka berbicara, meskipun kemungkinan mereka mampu merespon kita hanyalah kecil.

Tidak jarang juga jika sedang bermmain robot-robotan atau mobilan, kita sering berbicara sendiri dengan mainan yang bahkan kita sendiri yang menggerakkannya dan memainkannya. Kalau yang penyayang binatang sering juga mengajak binatang yang dirawat untuk diajak berbicara. Nah bukankah tingkah itu seperti orang gila.

Sekali lagi tergantung dari persepsi mana kita mendefinisikan kata gila itu sendiri.

Dalam pandangan kita ketika ada seseorang yang memakai baju robek, jalan tidak pakai alas, berpenampilan kumal dan tidak mandi, lalu berjalan tanpa pandangan dengan tujuan, kita menganggapnya gila. Tapi dalam pandangan orang itu mungkin kitalah yang gila.

Masih ingat cerita dari Bunda Helvy Tiana Rosa ketika memiliki seorang mahasiswi yang bisa dikatakan memiliki masalah dengan kejiwaan, jika kita masukkan kondisinya pada keadaan umum. Namun jika menganggapnya sebuah hal yang berbeda tentu dirinya adalah seorang yang memiliki imajinasi dan kreatifitas tinggi.

Memang dia menganggap semua orang selain dirinya adalah makhluk dari planet Mars, dan sering menyayat tangannya. Bahkan dalam satu waktu, pernah menghubungi bunda Helvy, mahasiswi itu mengatakan ingin membunuh ibunya ditengah malam, meskipun hal itu tidak benar-benar terjadi.

Pahamilah makna sebenarnya kata gila itu dengan pemahaman terbaik, jangan hanya menjudge sana-sini. Jika kita definisikan luas, apa tidak gila para koruptor yang terus sibuk menguras hak orag lain. Para pegawai yang lebih banyak mencari waktu luang daripada menjalankan amanahnya. Ataupun antar golongan yang terus berdebat untuk mendapatkan perhatian. Semuanya bisa dibilang gila kan?

Ingat, jika kita mengartikannya dalam banyak hal, maka kita semua adalah orang gila. Tak ada seseorang yang benar-benar waras jika harus melakukan suatu perubahan namun tak mau mendapatkan kondisi yang harus diperjuangkan. Yang penting singkat cepat dan tepat.

Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, maka jangan pernah mencela dan menyela ciptaan Allah bgaimanapun benuk dan rupa, karena apa yang kita miliki semuanya adalah pemberia dariNya termasuk akal dan pikiran yang mengendalikan diri dari segala hal.

Maka tak perlu ada yang dirisaukan dengan yang dilakukan, selama mengandung kebaikan dan menjadikan kualitas diri meningkat, tak jadi masalah bagaimanapun bentuk yang dilakukan. Jangan salahkan mereka yang terlalu stress dan kehilangan akal untuk melakukan sesuatu.

Sekali lagi Gila bukanlah sebuah kepastian, tapi itu adalah pilihan. Menjadi orang gila atau tidak yang dilihat adalah seberapa jauh perlakuan yang anda perbuat atas apa yang terjadi di sekitar.

Salam kebaikan.
 
;